Anak dan Eskalator

Saya pernah mendengar Survey iseng tentang hal apa yang paling menakutkan bila membawa anak ke Mall. Dan sebagian besar responden menjawab eskalator.

Ya, bukan sekali dua kali kita mendengar peristiwa kecelakaan anak karena eskalator. Mulai dari terjepit, sampai ikut terseret lalu jatuh terhempas. Ngeri!

Karena kios saya letaknya pas depan eskalator, sudah cukup kenyang sama teriakan panik atau tangisan anak kecil di eskalator. Makanya karyawan sekitar toko kadang juga bertugas sebagai penolong kalo ada kejadian di sana. Ada anak anak yang sengaja dibiarkan main, tapi begitu si anak terus duduk sampai atas barulah orangtua panik. Ada juga yang anaknya terjatuh di eskalator, tapi si ibu malah lebih pilih untuk menyelamatkan belanjaannya. Atau anak yang masih takut naik eskalator tapi dipaksa orangtuanya ketimbang lewat tangga.

Nah, bapak ibu….di mata anak semua benda adalah mainan. Apalagi benda itu berupa eskalator yang tangganya terus bergerak, dan memiliki ban berjalan. Tugas orangtua lah untuk memberi pengertian bahwa Eskalator bukan mainan dan sangat berbahaya.

Setuju?

Advertisements

[Review] Antara Berry Kitchen & Tanah Abang

Tahun lalu, dari Social Media, saya mendapat info kalau Berry Kitchen mengadakan Promo free Sampel untuk jasa Catering mereka.
Karena waktu itu saya belum mendapat karyawan baru, sehingga harus full jaga kios di Tanah Abang, saya sudah jarang masak untuk bekal makan siang. Boro boro ya, bisa masak buat makan sehari hari aja udah syukur. Lagipula saya sudah bosan banget sama menu makanan yang dijual di Pasar. Lumayan juga ada alternatif buat menu makan siang selama di Tanah Abang. Akhirnya saya coba ikutin petunjuk gimana caranya biar bisa dapet testernya Berry Kitchen.

Jadi kita diharuskan mengisi biodata dan alamat dimana Sampel Catering akan dikirim, lalu dari Pihak Berry Kitchen akan diseleksi kembali siapa saja yang berhak dikirimkan tester.

Mudah sih caranya. Akhirnya saya isi juga walaupun sempat pesimis, karena ternyata tidak semua yang mengisi formulir akan dikirimi sampel. Nothing to lose banget, karena Saya pikir mungkin pihak Berry Kitchen hanya akan menyasar target pekerja kantoran.

Skip, skip setelah sekian lama ( bahkan saya nyaris lupa ), suatu hari datanglah kurir berseragam menanyakan nama saya sambil menyerahkan bungkusan plastik. Setelah saya buka, isinya ternyata box rapi dengan label Berry Kitchen dan isi menu di dalamnya. Kira kira seperti inilah penampakannya

image
Lauk pauk dan dessert buah. Maaf, foto boxnya udah kehapus

Untuk kemasan dan penyusunan menu lumayan apik. Bahkan di tester kedua yang saya terima, pencuci mulutnya berupa puding mangga. Walaupun beberapa makanannya lebih enak dari buatan saya *soook 😜 , tapi saya hargai sekali keputusan dari Berry Kitchen untuk memilih lokasi yang ‘anti mainstream’ seperti ini.
Beneran lho! Waktu saya mengisi formulir alamat tempat kerja, saya sempat berpikir kalau saya masih bekerja di stasiun TV, pasti kans saya untuk terpilih lebih besar hehehe.
Anyway, terima kasih Berry Kitchen untuk sampelnya 😊.

Jajan di Tanah Abang

Sekarang saya mau ngomongin jajanan dari segi penghuni Tanah Abang nih…
Kalo dari sisi pengunjung mah udah pada tahu dong.

Sebenernya di Tanah Abang banyak penjual makanan keliling nawarin makanannya. Mau itu nasi padang, rames, nasi goreng, sate padang, soto, ketupat sayur, sampe cemilan kaya gorengan, pempek, cilok, bihun/mie goreng, roti, rujak, teh tahlua, bubur kacang hijau, dan singkong rebus. Bahkan ada satu kios baju yang sehari hari jualan oplosan minuman (nutri sari, teh tarik, cappucino, soda susu dan Indomie yang komplit pake telur, bakso dan rawit). Dan jualan f&b nya bahkan lebih laku dari baju!

Yang apes sih karena posisi Kios saya di depan Eskalator, jarang penjual yang lewat. Kenapa? Karena takut dirazia Satpam. Memang sih, di Tanah Abang jualan gerilya seperti itu dilarang keras. Kalo kena razia semua dagangannya akan disita. Makanya penjual sembunyi sembunyi dan kucing kucingan dengan satpam. Padahal kehadiran mereka ngebantu banget buat karyawan yang jaga kios sehari hari. Ngga mungkin juga mereka keluar uang lebih untuk jajan di Food Court yang mahal, atau harus ke luar gedung untuk cari cemilan.

So, mau ngemil apa kita sore ini?

Buah Unik di Tanah Abang

Waktu awal saya jualan di Tanah Abang, sempet ada sesi norak sama pedagang buah di sekitar sini.

Buah yang jarang saya lihat atau cuma bisa ditemuin di Supermarket khusus buah, bisa dijumpai di Tanah Abang.

Sebut saja Pear, Lemon, Jambu Bangkok, Kiwi, Anggur, Jambu Monyet, Leci, dll.
Bahkan saya bisa nostalgia dengan buah Delima juga berkat pedagang yang banyak menjual Delima Thailand.

Untuk harga pastinya lebih miring. Yah mirip dengan harga buah di Swalayan Total kalo lagi promo lah 😀.
Kebetulan saya juga penggemar makanan sehat, walaupun sering lupa.

Konon, dulu juga ada Pasar Basah di Tanah Abang. Yang menjual sayur mayur dan daging, namun sayang sekarang sudah ngga ada. Padahal buat yang seneng masak kaya saya dan waktunya terbatas, pasti terbantu banget kalo bisa beli bahan sayuran dan lauk dekat sini. Secara pasar deket rumah ngga ada yang jual ayam kaki 2. Hiks, curcol deh!

All About Porter

Tahukah anda, bila pedagang belanja dalam partai besar di Tanah Abang, mereka hanya jalan lenggang kangkung tanpa bawaan?
Yang mereka simpan di dompet hanyalah nota dari toko toko langganan sebagai bukti transaksi.

Berikutnya, tugas si pemilik toko lah yang mengantarkan belanjaan mereka ke hotel tempat langganan menginap, atau di pool ke kios lain untuk dikumpulkan dan dikirim.

Nah urusan kirim dan antar tentulah kita butuh bantuan porter. Ya, selain melayani pengunjung, porter juga kerap dibutuhkan oleh pemilik toko. Bahkan ada porter yang terkenal rajin dan jujur, diangkat menjadi porter tetap/freelance di beberapa toko.

Bahkan pengunjung yang berusia lanjut dan tidak ditemani, kadang minta bantuan Porter untuk mengawal selama dia berbelanja. Mungkin juga dari segi keamanan juga lebih terjamin.

Tarif untuk membawa dan mengawal selama belanja saya kurang paham. Yang jelas untuk antar dan kirim, tarif disesuaikan dengan besarnya bawaan. Malah waktu pasar lagi sepi, banyak porter yang banting harga dengan tarif 10-15rb untuk membawakan belanjaan.

Tapi yang memprihatinkan, banyak porter yang belum bisa baca tulis. Secara waktu saya tahu karyawan baru saya hanya lulusan SMP aja udah bikin kaget, ini malah banyak porter yang buta huruf. Ironis ngga sih? MEA sudah terjadi tapi SDM kita kualitasnya seperti ini. Apalagi Tanah Abang juga banyak dikunjungi oleh wisatawan atau pedagang mancanegara. Tentulah porter yang bisa berbahasa asing akan lebih memudahkan.

Mendadak Lunas

Jadi begini ceritanya,

Jumat kemarin (22/1), saya lagi jaga kios seperti biasa dengan karyawan.
Karyawan saya masih baru, karena yang sebelumnya kami berhentikan setelah 4 tahun kerja.

Tiba tiba dia terlihat memanggil seseorang dari eskalator. Lalu dia bilang, “eh itu orang Malaysia (U)ni! Panggil sini ah…”
Rupanya yang dia panggil adalah langganan toko tempat dia kerja sebelumnya. Dan karena dia tahu target market kita orang Malaysia, dia berinisiatif agar si langganan datang ke kios. Ngga lama datanglah karyawan saya dengan 2 orang wanita, tapi anehnya mereka menolak untuk masuk dan lihat lihat. Mereka cuma sampai di depan kios dan terlihat awkward.
Setelah saya perhatikan, sepertinya saya tahu salah satu dari mereka. Dari postur wajah dan gaya bicaranya, sepertinya dia orang yang punya hutang dengan suami.

Jadi bulan Ramadhan tahun lalu, saya sempat menemani Suami menagih hutang ke orang tsb. Jumlahnya lumayan lah, lebih dari 2 digit. Hutang itu berasal dari pesanan barang yang belum dibayar lunas. Tapi benar benar tidak ada itikad baik untuk pembayarannya sama sekali.
Bayangkan, saya dan suami harus 2x bolak balik ke hotel tempat dia menginap, karena dia tidak muncul. Suami sengaja tidak memberi tahu kedatangannya ke hotel, bahkan Suami hanya tahu kalau ybs sedang di Indonesia untuk belanja barang dagangan dari status Fb. Dari status Fb juga Suami kesal karena tahu dia di Malaysia baru membuka usaha kuliner.

Untunglah petugas hotel mau diajak kerjasama setelah dijelaskan maksud kedatangan kita. Begitu dia turun dari taksi malam malam, suami langsung cegat dia. Akhirnya setelah perdebatan alot, baru lah dia mau mengeluarkan uang untuk melunasi separuh hutangnya. Hih!

Nah, balik ke cerita awal. Karena si karyawan baru ngga hapal namanya, suami kasih lihat foto untuk memastikan orangnya. Setelah dibenarkan itu orang yang sama, akhirnya setelah tutup toko dan mengantar saya pulang, Suami balik lagi ke Hotel tempat dia menginap untuk menagih sisa hutang. Yah walaupun dia sempat mengelak dengan bilang tadi sudah ke toko dan mencari suami saya, Alhamdulillah hutangnya sudah dilunasi. Besoknya Suami jemput dia ke Hotel dan mengantar untuk tukar uang di Ayumas.

Soal hutang piutang ini ya, sebenarnya masih ada beberapa orang Malaysia yang memiliki hutang dengan Suami. Makanya, sekarang saya bersikap tegas kalau pembayaran harus sudah lunas sebelum barang dikirim.
Nagih hutang itu melelahkan, you know…

Tentang Molohkata Labembe

Yang biasa denger Jak FM tentu tahu Molohkata Labembe ini. Jadi itu adalah sebutan (saya) untuk WNA kulit hitam, yang sering banget kita jumpai di Tanah Abang dan sekitarnya. Mereka pastilah terlihat mencolok dengan kulit yang hitam legam, dan pakaian berwarna cerah ceria.

Konon, mereka itu datang awalnya murni berdagang. Namun lama kelamaan, mungkin setelah tahu celahnya dan proses Asimilasi dimana mereka menemukan jodoh di Indonesia. Jadilah mereka kini banyak yang membuka konveksi dan berjualan di Tanah Abang.

Makanya saya suka gemes sama bangsa sendiri yang terlalu permisif dengan bangsa luar. Mudah sekali kasih info ‘mahal’ ke bangsa asing, tanpa memikirkan dampaknya buat sesama bangsa sendiri.
Contohnya, untuk mukena memang paling bagus yang berasal dari Tasikmalaya. Namun, kini orang orang Malaysia tinggal sewa mobil dan datang langsung ke sumbernya di Tasik sana. Memang ngga semua bakal kesana juga sih, apalagi yang belinya cuma partai kecil. Cuma alangkah baiknya kalo alur dagang tetap di prosesnya semula tanpa harus ‘potong jalan’. Toh, keuntungannya kan buat orang Indonesia juga.

Begitu juga soal berjodoh dengan pribumi. Banyak WNA kulit hitam yang hanya memanfaatkan wanita Indonesia buat memuluskan proses usahanya disini. Well, ngga semua seperti itu sih..
Pastinya ada juga yang bener bener jatuh hati secara tulus sama wanita Indonesia. Yang pasti kehadiran mereka sedikit banyak meruntuhkan image kalo kehadiran mereka bukan untuk hal hal negatif kaya narkoba. Tapi juga ikut menyemarakkan perdagangan di kawasan Tanah Abang.