Tentang Baju

Sebagai orang yang sehari hari bergaul dengan baju, mari kita angkat hal itu sebagai topik kali ini. Bahwa lingkungan kerja saya adalah pusat grosir (baju) terbesar di Asia Tenggara, ditambah pekerjaan saya yang mengharuskan untuk tahu tren baju (muslim) paling update, memilih motif & warna bahan, sampai uji coba sampel desain.
So, kita bahas baju secara personal yuk!

Waktu kecil dulu, pembagian baju kita mungkin lebih banyak ya. Ada baju tidur, baju rumah, baju main, baju pergi, baju pesta, dll. Makin dewasa, pembagian baju kita lebih simple atau lebih complicated?
Sejak saya memutuskan untuk berhijab, pembagian baju saya lebih sederhana. Hanya baju keluar rumah, baju rumah & baju pesta. Tentu saja baju rumah adalah baju yang tidak mungkin lagi saya kenakan di luar rumah. Dan karena tempat kerja saya notabene pasar, maka saya satukan saja dengan baju pergi (keluar rumah) yang lebih banyak casual. Saya hanya punya satu kemeja, itu pun dikasih gratis dari simpatisan Jokowi waktu lagi antri di kasir H&M hihi.

Dari sisi saya pribadi, keputusan untuk berhijab tahun lalu adalah kesempatan untuk mengubah isi lemari secara total. Karena hampir sebagian besar baju saya singkirkan. Dan perasaan itu seperti kita kembali ke titik nol, bisa membuat konsep baru bagaimana cara memilih baju, belanja & gaya berpakaian selanjutnya.
Seperti halnya busana muslim. Saya kurang suka gaya 3 pieces yang terlihat ribet, dan kurang cocok untuk cuaca Jakarta yang panas. Makanya sehari hari lebih suka memakai tunik/kaos panjang, yang dipadukan dengan celana/legging/rok yang lebih simpel dan anti gerah. Bahkan saya lebih sering memakai bandana sebagai alas hijab ketimbang ciput untuk mencegah gerah. Psst…awal berhijab saya juga selalu memakai hijab instan produksi sendiri. Secara males banget buat belajar dari tutorial hijab, yang dimata saya semua sama modelnya πŸ˜….  Saya juga punya beberapa model rok yang sudah jadi satu dengan celana. Intinya praktis, praktis dan praktis!

Dari segi pemilihan warna pun kini saya hanya memilih baju dengan warna monokrom standar. Hitam, putih, dan abu. Dan nyatanya prinsip itu jadi semacam ‘rem’ kalau belanja baju. Jika model baju yang saya taksir tidak menyediakan warna diatas, saya pasti tidak akan beli. Kalau pun saya memilih baju dengan warna diluar itu, sudah bisa dipastikan kalau saya suka banget sama modelnya. Yeah… walaupun sekalinya di satu model yang saya suka ada warna warna basic tsb, saya bisa beli baju yang sama dengan 2 warna πŸ˜‚ #girlswillbegirls. 

Anyhow, dalam pikiran saya ada semacam pembagian ‘tidak resmi’ untuk Baju Keluar Rumah. Kategori ‘keren’ dan ‘biasa’ . Baju ‘biasa’ aman digunakan kalau saya hanya pergi ke toko saja. Tapi kalau saya tahu ada acara selepas kerja, biasanya saya memakai baju yang masuk kategori ‘keren’. Jika saya akan pergi liburan di minggu depan pun, sebelum berangkat saya hanya akan memakai Baju Keluar Rumah dengan kategori ‘biasa’. Sehingga saat liburan, saya bisa eksis dengan baju baju yang saya anggap ‘keren’. Pernah sih, saya berpikir untuk menyingkirkan semua baju yang masuk kategori ‘biasa’, agar sehari hari saya ngga perlu bingung untuk menentukan baju yang saya pakai. Tapi kayanya manusia ngga pernah ada puasnya, bukan? Akan selalu ada baju yang lebih keren dan keren lagi. Lagipula, kadang saya malah butuh baju dengan kategori ‘biasa’. Entah karena pikiran atau suasana hati yang lagi buruk, atau pas lagi ngga mau terlihat mencolok. Sungguh ribet ya yang namanya perempuan? 😜

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s