Tough Time

*lambaikan tangan ke kamera*

Yup! Akhirnya kami menyerah….menyerah untuk menggantungkan hidup pada Tanah Abang 😭.

Terhitung sejak awal Oktober lalu, suami resmi punya profesi tambahan…..Sopir UBER! 

Mau gimana lagi, secara penghasilan dari toko hanya cukup untuk operasional sahaja. Ya daripada dapur ngga ngebul, terpaksa kita cari alternatif usaha lain yang menghasilkan. Fyi, saat tulisan ini dibuat, toko saya belum laris dari 5 hari ajah 😩.

Tega ngga tega sebenernya, secara suami kudu bangun pagi buta atau pulang pagi demi narik UBER. Untungnya sekarang dia mau bawa bekal minuman & snack kalau susah cari jajanan.

Kondisi pasar seperti ini sih bukan cuma kita yang mengalami. Rata rata semua pedagang ‘menjerit’ sama situasi industri & perekonomian yang lesu.

Secara langsung bisa dilihat dari banyaknya toko yang tutup atau diperkecil (tadinya 3 pintu sekarang hanya 2 pintu), jam buka yang diperpendek (di Blok B kini jam 15.30 sudah pada tutup & sepi), pengurangan jam kerja karyawan (karyawan masuk kerja secara bergilir setiap hari), bahkan sampai ada pedagang yang berjualan dalam kondisi gelap karena belum bisa membayar iuran listrik. 

Alhamdulillah suami masih cukup optimis sih, sementara saya lebih sering down & stress ngadepinnya. Mungkin karena suami udah terbiasa sama dunia usaha yang naik turun. Makanya, kita berdua sekarang lebih banyak kasih kata2 positif ala ala ‘Sarden Way’ buat Lala yang jaga toko biar dia ngga hilang harapan.

Tetap Semangat!