Budaya (Jelek) di Tanah Abang

Masih seputar perdagangan di Tanah Abang. Kali ini saya ingin berbicara dari segi persaingan sesama pedagang.

Hm..menurut pandangan kacamata Dior (kw) saya, orang Tanah Abang rasa kebersamaannya kurang ya. Mereka cenderung mikirin dirinya sendiri. Yang lagi naik usahanya naik, yang turun turun. 

Khususnya di Tanah Abang Blok A sik, soalnya di PGMTA alias Metro, pedagang disana lebih kompak dan hanya mau menjual secara grosir. Dulunya sih Blok A seperti itu, tapi lama kelamaan banyak pedagang yang merelakan barangnya dibeli partai eceran. Sehingga mau ngga mau semua pedagang pun akhirnya menjual barang secara grosir & ecer.

Di masa sulit seperti ini pun orang hanya sibuk dengan masalahnya masing masing. Jangankan sodara ipar sendiri, bahkan kawan kami sesama pedagang pun susah sekali diminta untuk menitip jual barang dagangannya di toko kami. Padahal dia udah kenal lama, tiap hari datang ke toko, tahu gimana posisi toko kami yang strategis, bahkan sudah akrab sama karyawan saya.

Malahan ada juga yang ambil kesempatan dari kondisi sempit kami. Mengetahui kami sempet tutup selama sebulan lebih, toko sebelah menawarkan untuk menyewa kios kami. Tapi dengan harga di bawah pasaran, walaupun dia berani ambil sampai 4 tahun kedepan. Mungkin dipikir kami bangkrut & BU ya 😂.

Anyway, ngga semua seperti itu sih. Salah satu sepupu suami yang juga orang tanah abang malah kini jadi teman sesama supir taksi online. Dulu si sepupu mengajak suami untuk cari tambahan di taksi online, dan begitu tahu suami udah terjun, mereka sering kasih info dan nongkrong bareng kalo lagi break. Waktu awal suami berjualan pun, dia dipinjamkan barang dagangan oleh salah satu kerabatnya. 

Padahal, kalau sesama pedagang bersatu & bahu membahu. Mungkin dampak lesunya perekonomian tidak separah ini. Yah mungkin mereka sadar banget, bahwa yang namanya usaha ada naik turun. Jadi mungkin yang lagi naik menikmati, dan yang lagi turun merasa inilah masa yang harus dilewati. Eh gitu ngga sih?

Advertisements

Senasib

Mau cerita dikit aja…

Jadi, kemarin kita datang pagi janjian sama Lala untuk belanja barang dagangan. Menurut suami, minggu depan setelah pilkada usai, kemungkinan pasar bakal ramai. Karena sudah menjelang puasa dan Jakarta (Insya Allah) sudah bebas dari demo.

Saat kita hendak naik lift, suami ketemu temannya sesama pedagang di Tanah Abang. Dia langsung cerita, bahwa setelah 9 tahun menempati kios yang sama, akhirnya harus kalah karena keadaan. Sebelumnya, dia sudah berusaha memperkecil kiosnya. Dari 2 pintu jadi 1 pintu, namun ternyata pasar masih sepi dan ngga nutup juga. Maka di tahun ke 9 ini lah dia memutuskan untuk keluar dari Tanah Abang dan pindah ke lokasi yang lebih murah dan menjanjikan.

Sedih euy dengernya 😭