Suamiku Pengemudi Taksi Online

Oot dikit dari tema blog boleh yaaa…

Oke, sekarang saya mau sharing soal supir taksi online, yang saat ini dijalani oleh suami. Kenapa saya sebut taksi online (taksol), karena saat ini rata rata supir taksol punya minimal 2 aplikasi.

Jadi suami awalnya daftar untuk jadi pengemudi Uber, itu karena diajak teman SMPnya yang udah duluan narik. Dan teman suami itu seorang pengacara yang berkantor di daerah Tulodong, Jakarta Selatan. Setelah uji coba sebulan, suami ngerasa kalo Uber terlalu besar potongan biayanya. Meskipun kami suka sistem pembayarannya yang seminggu sekali langsung ditransfer secara otomatis ke rekening. 

Akhirnya karena banyak sharing dengan teman Clubnya yang juga supir taksol, suami baru aja daftar di aplikasi Go Car. Di Go Car ini sih masih baru beberapa hari jalanin. Tapi so far suami lebih puas karena tidak ada potongan, pembayaran bisa ditarik sewaktu waktu (ini menolong banget karena pengemudi butuh modal untuk bensin), tarif yang lebih mahal dari Uber, serta kejelasan rute & tarif saat penumpang melakukan panggilan. Di Go Car juga tidak ada keharusan kita harus menerima semua panggilan. Sehingga supir bisa menentukan sendiri pendapatan yang didapat. Pendeknya, menurut suami Go Car tidak se-ngoyo Uber lah.

Pengemudi taksol juga kompak lho, mereka punya beberapa titik ngumpul buat istirahat, buang hajat, ngopi sambil ngobrol. Pas lagi ngumpul2 juga ngga jarang mereka saling kasih order buat yang membutuhkan. Entah karena jalurnya searah atau jaraknya sesuai dengan keinginan.

Bahkan mereka juga punya grup WA yang anggotanya lintas aplikasi. Grup yang aktif tersebut biasanya diisi info titik mana yang lagi ramai/sepi order, situasi jalan, sampai kejadian yang dialami. Sering malah mereka kirim screenshot bukti perjalanan mereka berikut fee nya yang tinggi. Hal itu buat memotivasi rekan lain sesama pengemudi. Tak jarang juga mereka saling kasih nasihat, seperti jangan sampai kerja diforsir jadi lupa keluarga atau tips mengatasi kriminalitas.

Apapun, tetap aja sih sebagai istri saya berharap suami ngga usah lama jadi supir taksol. Sebab selain jam kerja nya yang panjang (suami mulai di waktu subuh saat hari nomer genap & pulang dini hari di hari nomer ganjil), sekarang mulai banyak kriminalitas menimpa supir taksol. 

Apalagi suami selama kerja taksol seharian itu nyaris ngga pernah makan berat. Jika istirahat dia hanya minum kopi. Makanya sering saya bekalin kudapan buat ganjel perut.

Terakhir, saya cuma bisa berharap, ekonomi global & lokal membaik. Pasar tanah abang mulai bergairah, sehingga suami bisa cepat kembali ke titahnya 😜.

Tentang Baju

Sebagai orang yang sehari hari bergaul dengan baju, mari kita angkat hal itu sebagai topik kali ini. Bahwa lingkungan kerja saya adalah pusat grosir (baju) terbesar di Asia Tenggara, ditambah pekerjaan saya yang mengharuskan untuk tahu tren baju (muslim) paling update, memilih motif & warna bahan, sampai uji coba sampel desain.
So, kita bahas baju secara personal yuk!

Waktu kecil dulu, pembagian baju kita mungkin lebih banyak ya. Ada baju tidur, baju rumah, baju main, baju pergi, baju pesta, dll. Makin dewasa, pembagian baju kita lebih simple atau lebih complicated?
Sejak saya memutuskan untuk berhijab, pembagian baju saya lebih sederhana. Hanya baju keluar rumah, baju rumah & baju pesta. Tentu saja baju rumah adalah baju yang tidak mungkin lagi saya kenakan di luar rumah. Dan karena tempat kerja saya notabene pasar, maka saya satukan saja dengan baju pergi (keluar rumah) yang lebih banyak casual. Saya hanya punya satu kemeja, itu pun dikasih gratis dari simpatisan Jokowi waktu lagi antri di kasir H&M hihi.

Dari sisi saya pribadi, keputusan untuk berhijab tahun lalu adalah kesempatan untuk mengubah isi lemari secara total. Karena hampir sebagian besar baju saya singkirkan. Dan perasaan itu seperti kita kembali ke titik nol, bisa membuat konsep baru bagaimana cara memilih baju, belanja & gaya berpakaian selanjutnya.
Seperti halnya busana muslim. Saya kurang suka gaya 3 pieces yang terlihat ribet, dan kurang cocok untuk cuaca Jakarta yang panas. Makanya sehari hari lebih suka memakai tunik/kaos panjang, yang dipadukan dengan celana/legging/rok yang lebih simpel dan anti gerah. Bahkan saya lebih sering memakai bandana sebagai alas hijab ketimbang ciput untuk mencegah gerah. Psst…awal berhijab saya juga selalu memakai hijab instan produksi sendiri. Secara males banget buat belajar dari tutorial hijab, yang dimata saya semua sama modelnya 😅.  Saya juga punya beberapa model rok yang sudah jadi satu dengan celana. Intinya praktis, praktis dan praktis!

Dari segi pemilihan warna pun kini saya hanya memilih baju dengan warna monokrom standar. Hitam, putih, dan abu. Dan nyatanya prinsip itu jadi semacam ‘rem’ kalau belanja baju. Jika model baju yang saya taksir tidak menyediakan warna diatas, saya pasti tidak akan beli. Kalau pun saya memilih baju dengan warna diluar itu, sudah bisa dipastikan kalau saya suka banget sama modelnya. Yeah… walaupun sekalinya di satu model yang saya suka ada warna warna basic tsb, saya bisa beli baju yang sama dengan 2 warna 😂 #girlswillbegirls. 

Anyhow, dalam pikiran saya ada semacam pembagian ‘tidak resmi’ untuk Baju Keluar Rumah. Kategori ‘keren’ dan ‘biasa’ . Baju ‘biasa’ aman digunakan kalau saya hanya pergi ke toko saja. Tapi kalau saya tahu ada acara selepas kerja, biasanya saya memakai baju yang masuk kategori ‘keren’. Jika saya akan pergi liburan di minggu depan pun, sebelum berangkat saya hanya akan memakai Baju Keluar Rumah dengan kategori ‘biasa’. Sehingga saat liburan, saya bisa eksis dengan baju baju yang saya anggap ‘keren’. Pernah sih, saya berpikir untuk menyingkirkan semua baju yang masuk kategori ‘biasa’, agar sehari hari saya ngga perlu bingung untuk menentukan baju yang saya pakai. Tapi kayanya manusia ngga pernah ada puasnya, bukan? Akan selalu ada baju yang lebih keren dan keren lagi. Lagipula, kadang saya malah butuh baju dengan kategori ‘biasa’. Entah karena pikiran atau suasana hati yang lagi buruk, atau pas lagi ngga mau terlihat mencolok. Sungguh ribet ya yang namanya perempuan? 😜