Jajanan ‘Underground’ Tanah Abang

Hai Guys,

Kali ini saya mau share jajanan yang biasa saya beli buat nemenin kerja di Tanah Abang yah.

Catet, makanan yang saya posting disini adalah makanan yang dijajakan dengan cara berkeliling di Tanah Abang (bukan di kios/food court). Dan seperti yang sudah saya ceritakan, dengan alasan razia, pedagang makanan ini tidak terlihat seperti orang yang jual makanan. Mereka menutupi dagangannya dengan plastik belanja, sehingga keberadaannya berbaur dengan pengunjung. Oleh karena itu, hanya penghuni Tanah Abang aja yang tahu. Makanya saya pake istilah Underground sesuai judul diatas 🙂

Cekidot!

Biarpun cm roti 3000 perak tapi ngga kalah enak

Roti Isi ini konon udah lama dijual sm bapak2 yang ramah & suka bercanda. Bapak Sunda ini pernah cerita, kalo suatu saat nanti pengen buka pabrik Roti sendiri (Aamiin deh pak). 

Biarpun murah meriah tapi enak & lumayan nendang buat ganjel perut.

Pempek asli (orang) Palembang

Ini adalah Pempek buatan Mak asal Palembang yang dulu pernah saya ulas. Cukonya otentik & rasa ikannya mantap bikin nagih. Sebenernya favorit saya Pempek Kapal Selamnya, tapi belum sempat saya foto. Harga pempek kecil 5k, sementara Kapal Selam 10k.

Katupek Gulai Paku

Berhubung pedagang Tanah Abang sebagian besar berasal dari Padang, maka ngga heran cukup banyak penjual makanan khas Sumatra Barat yang beredar disini. Baik Nasi Goreng Padang, Ketupat Sayur Padang, Gado2 Padang, Nasi Padang, sampai Teh Telor alias Teh Talua.

Langganan Katupek Padang saya ada 2; 1 yang dijual Uni pagi2, dan yang dijual Uda siang2. Yang saya foto adalah Katupek yang dijual Uda, secara saya siang baru sampai di toko. Sayurnya bisa macam macam sesuai ketersediaan, ada Cubadak (Nangka), buncis, dan yang paling saya suka & jarang adalah Gulai Paku (Pakis). Harga semua sama sih, seporsi 10k.

Sebenernya, selain yang dijajakan keliling, banyak juga karyawan Tanah Abang yang nyambi jualan makanan juga. Kaya ada gorengan, peyek, mie instan dan snack.

Dan masih banyak juga sebetulnya jajanan keliling lain seperti Jasuke, martabak telor, cilok, otak2, rujak, etc. Tapi, berhubung posisi toko saya di depan, jadi ketemu sama yang jual makanan tuh untung2an. Karena satpam banyak yang beredar di sekitar toko.

Nanti saya update lagi kalau ada yang baru yaaaaa….

Advertisements

Budaya (Jelek) di Tanah Abang

Masih seputar perdagangan di Tanah Abang. Kali ini saya ingin berbicara dari segi persaingan sesama pedagang.

Hm..menurut pandangan kacamata Dior (kw) saya, orang Tanah Abang rasa kebersamaannya kurang ya. Mereka cenderung mikirin dirinya sendiri. Yang lagi naik usahanya naik, yang turun turun. 

Khususnya di Tanah Abang Blok A sik, soalnya di PGMTA alias Metro, pedagang disana lebih kompak dan hanya mau menjual secara grosir. Dulunya sih Blok A seperti itu, tapi lama kelamaan banyak pedagang yang merelakan barangnya dibeli partai eceran. Sehingga mau ngga mau semua pedagang pun akhirnya menjual barang secara grosir & ecer.

Di masa sulit seperti ini pun orang hanya sibuk dengan masalahnya masing masing. Jangankan sodara ipar sendiri, bahkan kawan kami sesama pedagang pun susah sekali diminta untuk menitip jual barang dagangannya di toko kami. Padahal dia udah kenal lama, tiap hari datang ke toko, tahu gimana posisi toko kami yang strategis, bahkan sudah akrab sama karyawan saya.

Malahan ada juga yang ambil kesempatan dari kondisi sempit kami. Mengetahui kami sempet tutup selama sebulan lebih, toko sebelah menawarkan untuk menyewa kios kami. Tapi dengan harga di bawah pasaran, walaupun dia berani ambil sampai 4 tahun kedepan. Mungkin dipikir kami bangkrut & BU ya 😂.

Anyway, ngga semua seperti itu sih. Salah satu sepupu suami yang juga orang tanah abang malah kini jadi teman sesama supir taksi online. Dulu si sepupu mengajak suami untuk cari tambahan di taksi online, dan begitu tahu suami udah terjun, mereka sering kasih info dan nongkrong bareng kalo lagi break. Waktu awal suami berjualan pun, dia dipinjamkan barang dagangan oleh salah satu kerabatnya. 

Padahal, kalau sesama pedagang bersatu & bahu membahu. Mungkin dampak lesunya perekonomian tidak separah ini. Yah mungkin mereka sadar banget, bahwa yang namanya usaha ada naik turun. Jadi mungkin yang lagi naik menikmati, dan yang lagi turun merasa inilah masa yang harus dilewati. Eh gitu ngga sih?

Lepas Kunci

Alhamdulillah setelah lebaran kemarin, resmi sudah karyawan baru kita percayai untuk memegang kunci toko. Artinya, kunci toko dibawa pulang oleh karyawan. Bukan kita lagi yang pegang tiap hari.

Masalah kunci toko ini, berbeda beda tergantung dari sikap pemilik. Ada yang kunci tetap dipegang pemilik, sehingga tiap pagi dan sore dia datang untuk ambil. Resikonya, jika pemilik berhalangan maka toko pun akan tutup. Beda lagi dengan ipar saya, yang bahkan kunci sudah dipegang oleh karyawan baru sekali pun. Tanpa mau tahu si karyawan ini tinggal dimana, apakah jauh atau dekat. Bahkan, toko sebelah saya kunci dipegang karyawan kepercayaannya saat libur panjang lebaran. 

Nah, beda dengan suami saya yang lebih berhati hati. Suami wajib tahu dulu dimana karyawan tinggal. Bahkan suami menolak kasih kunci kalau karyawan sering pindah kos. Yah make sense sih, karena kalau karyawan berhalangan kan kita harus jemput tuh kunci. 

Mulai akhir Ramadhan kemarin tepatnya kita mulai uji coba lepas kunci ke karyawan. Apalagi kalau siang di bulan Ramadhan, suami saya yang perokok ini udah kaya ‘shutdown’ mode. Males banget bangun! Kalau ngga saya gebrak, bisa ampe Maghrib kali tidurnya 😩. Jadilah Lala, karyawan kami yang kost nya dekat Toko yang buka toko tiap pagi.

Tentu saja efek nya menyenangkan buat kita. Masih ingat postingan nyampah saya yang berisi keluhan kalau ngga punya waktu buat olahraga atau sekedar masak? Emang saya ngga sabar aja sih, padahal kan saya tahu kondisi ini hanya sementara. Buktinya, sekarang saya bisa jogging dan belanja sayur tiap pagi. Masih ada waktu untuk sekedar menyiapkan buah dan sarapan.Suami juga ngga harus berangkat dengan keadaan masih ngantuk, karena kita jalan santai. Pulang kerja pun bisa lebih awal, jadinya kita juga ngga kena macet lagi Horeeee….

Intinya saya merasa bersyukur sekali, karena idealnya jika kita sudah punya karyawan ya harus bisa kita lepas. Kalau semua masih harus kita yang handle, percuma dong ada karyawan. Saya cuma bisa berharap semoga karyawan saya istiqomah dan amanah, Aamiin YRA.

Gaji Karyawan di Tanah Abang

Ngomongin soal karyawan pasti ngga lepas dari masalah gaji. Apalagi toko yang ukuran 2 pintu, minimal harus punya 2 karyawan. Bahkan banyak juga yang memperkerjakan sopirnya di toko. Jadi merangkap bagian keamanan, khususnya kalau toko lagi rame ramenya.

Karyawan di Tanah Abang juga manusia biasa, yang bisa lompat lompat kerjaan kalau kondisinya udah ngga ideal. Kadang pindah kerjanya juga ngga jauh jauh dari tempat kerja dia dulu. Jadi kadang kalo ngga enak sama sesama bos, dia pindah dulu ke tempat yang jauhan dikit sebelum pindah ke tetangga hehe.

Yang pasti Tanah Abang itu ‘sempit’. Sesama pemilik biasanya saling kenal. Jadi mereka yang keluar secara tidak hormat biasanya susah dapet kerjaan lagi di seputaran Tanah Abang.

Mengenai gaji tentu ngga semua pemilik punya kebijakan sama. Ada yang cuma kasih uang harian (sudah termasuk ongkos & makan), tanpa ada lagi uang bulanan, bonus atau komisi. Jumlah hariannya pun bervariasi. Berkisar antara 35rb sampai 100rb per hari. Tentu pengalaman dan tanggung jawab juga menyesuaikan. Mereka yang uang hariannya besar pastilah termasuk senior atau orang kepercayaan si bos. Istilah di dunia retail ya Manager Toko lah. Bahkan banyak juga Karyawan yang bak tangan kanan si bos, yang bener bener menjalankan operasional toko secara keseluruhan. Sampai bosnya tinggal ongkang kaki aja terima duit tanpa harus mikir hehe enak toh?

Soal komisi dan bonus, pemilik toko juga punya hitungan sendiri sendiri. Ada yang berdasarkan kelipatan omzet, ada juga yang dihitung berdasarkan kuantitas barang yang terjual. Misalkan kelipatan 1jt dikasih bonus 5000 rupiah. Atau tiap pcs yang laku dihargai komisi 500 rupiah.

Kalo saya pribadi sih jujur tidak memberikan uang harian besar ke karyawan. Karena saya juga memberi uang bulanan yang cukup disamping komisi. Menurut saya tidak adil jika karyawan tidak mendapat uang hasil kerjanya selama sebulan. Ibaratnya ngga kerja ya ngga dapet duit, gitu lho.

Kostum Kerja

“Ni, kok pake sendalnya teplek sih? Biasanya bos pake sendalnya tinggi tinggi”

“Ni, kok Uda selalu pake kaos sih? Bos lain selalu rapi…”

Yup, itulah pertanyaan yang datang dari Karyawan saya, Lala. Ngga heran juga sih kenapa dia nanya gitu, mengingat hampir sebagian pemilik kios berusaha untuk tampil berbeda dari karyawannya.

Saya perhatikan, untuk pria. Hanya 1 banding 10 yang sehari hari memakai kaos. Yang lain pasti berkemeja rapi tangan panjang/pendek. Bahkan banyak juga yang bawahannya memakai celana panjang bahan. Ada juga sih yang pakaiannya santai, seperti anak muda pemilik kios Fashion di sebelah. Setiap hari hanya memakai celana pendek dan kaos. Ada juga yang selang seling antara kaos dan kemeja, dengan bawahan celana jeans. Tapi yang berpakaian santai seperti itu nyaris bisa dihitung dengan jari.

Menurut suami, ada sih masa masa dimana dia berpakaian rapi seperti itu. Dulu waktu awal awal berdagang di Tanah Abang. Tapi lama kelamaan ya senyamannya aja deh..

Nah untuk pemilik kios wanita jangan ditanya. Hampir semuanya tampil rapi dengan polesan make up dan kostum yang bisa saya kategorikan ‘baju pergi’.
Sementara saya? Yah berhubung mantan pekerja kantoran yang wajib tampil rapi, sekarang saya justru dalam masa euphoria bisa pakai baju santai setiap hari. Jadilah tampil no make up (lipstik kalo inget aja), kaos, legging atau skinny pants andalan saya sehari hari. Apalagi namanya juga di pasar seharian yang udaranya panas. Bahkan, kadang karyawan kami lebih rapi kostumnya.

Baju yang agak formil hanya saya kenakan kalo sesudah kerja kami ada acara, atau bertemu Customer. Iyes! Kalau suami sih cuek aja kaosan ketemu Customer, tapi saya berusaha tampil lebih representatif dikit lah. Namanya juga bisnis, kemasan dan penampilan berpengaruh juga pastinya.

image
Salah satu kostum kerja andalan. Channeling my inner Ria Miranda hihi

Tapi, sejujurnya betapa saya sangat mensyukuri kebebasan dalam memilih kostum kerja kami sehari hari, yang ngga semua orang bisa merasakan. Alhamdulillah

Profesi di Tanah Abang

Mau ngomongin profesi yang ada di Tanah Abang ah..
Hari ini saya mau ngomongin soal jenis pekerjaan di Tanah Abang selain karyawan dan pedagang. Semua profesi ini sistem kerjanya relatif sama, yaitu keliling pasar dan menawarkan dari kios ke kios. Kalo calo properti sih udah biasa lah yaa, bahkan pengelola juga ada bagian Marketingnya sendiri untuk sewa dan jual kios.
Sesama pemilik kios juga biasanya dapet komisi 2,5% kalo bisa mempertemukan pemilik dengan pembeli atau penyewa kios.

Berhubung di Blok A pedagang makanan dilarang jualan keliling, maka muncullah yang dinamakan Calo Makanan. Jadi orang ini akan berkeliling untuk menawarkan/ menerima pesanan dari pembeli di pasar untuk makanan yang dijual di sekitar Tanah Abang. Bisa berupa nasi padang, soto, indomie, bihun/mie goreng, jus bahkan teh tahlua.
Dari setiap pesanan, rata rata mereka hanya mengambil komisi sebesar 2000 perak dari harga makanan.

Ada lagi calo barang dagangan, atau yang disebut Kantau. Kantau ini adalah pembeli barang dagangan yang dijual murah ke pedagang kecil atau kaki lima. Barang murah ini bisa karena berbagai macam alasan, bisa karena pemilik menutup usahanya, atau barang lama yang sudah tidak laku lagi.
Biasanya dijual sekaligus karungan dan tawar menawar lah antara pemilik dengan Kantau.

Tapi ngga semua pedagang kecil atau kaki lima menjual barang sisa loh ya. Banyak juga dari mereka yang komoditinya dari Metro Pasar Grosir. Sekedar info, di Metro ini berjualannya harus minimal 6pcs seri ( tidak bisa pilih warna & ukuran). Jadi memang benar benar sasarannya diperuntukan untuk sesama pedagang. Jadilah penjual kaki lima menyasar pembeli yang untuk pakai sendiri, dan pastinya susah kalau harus beli sekaligus banyak.

Terakhir ada yang namanya Sales Bahan, yang kebanyakan orang India. Mereka ini akan menawarkan bahan untuk pemilik yang punya konveksi sendiri.

Nah sekian informasi buat pembaca, yang mungkin kalau dari sisi pengunjung belum banyak yang tahu akan keberadaan mereka 😃.

Jajan di Tanah Abang

Sekarang saya mau ngomongin jajanan dari segi penghuni Tanah Abang nih…
Kalo dari sisi pengunjung mah udah pada tahu dong.

Sebenernya di Tanah Abang banyak penjual makanan keliling nawarin makanannya. Mau itu nasi padang, rames, nasi goreng, sate padang, soto, ketupat sayur, sampe cemilan kaya gorengan, pempek, cilok, bihun/mie goreng, roti, rujak, teh tahlua, bubur kacang hijau, dan singkong rebus. Bahkan ada satu kios baju yang sehari hari jualan oplosan minuman (nutri sari, teh tarik, cappucino, soda susu dan Indomie yang komplit pake telur, bakso dan rawit). Dan jualan f&b nya bahkan lebih laku dari baju!

Yang apes sih karena posisi Kios saya di depan Eskalator, jarang penjual yang lewat. Kenapa? Karena takut dirazia Satpam. Memang sih, di Tanah Abang jualan gerilya seperti itu dilarang keras. Kalo kena razia semua dagangannya akan disita. Makanya penjual sembunyi sembunyi dan kucing kucingan dengan satpam. Padahal kehadiran mereka ngebantu banget buat karyawan yang jaga kios sehari hari. Ngga mungkin juga mereka keluar uang lebih untuk jajan di Food Court yang mahal, atau harus ke luar gedung untuk cari cemilan.

So, mau ngemil apa kita sore ini?