Tulisan Awal Tahun

Judulnya berat ngga sik? Padahal isinya mah receh as usual 😅.

Yang pasti awal tahun ini dibuka dengan toko kami yang belum juga buka sampai sekarang. Mudah mudahan bacanya ngga pusing yaaa?

Jadi si Lala karyawan kami akhir bulan ini menikah. Dan walaupun kami keberatan, Lala mantap untuk ambil cuti sebulan. Dimulai pas dari 1 Jan kemarin.

Sepertinya sudah tradisi karyawan di Tanah Abang yang akan menikah, untuk ambil cuti selama sebulan. Sebab karyawan sederetan toko saya pun seperti itu.

Nah, berhubung pengganti karyawan pun tidak ada. Dan penjahit saya pulang kampung, akhirnya toko pun terabaikan.

Mau gimana lagi, secara hitung hitungan kita rugi kalau pilih buka toko. Suami lebih baik menjemput rejeki lewat taksi online ketimbang harus menemani saya di pasar yang masih sepi seperti ini.

Yah harapan saya di tahun yang baru ini; semoga dunia usaha pada umumnya dan pasar tanah abang pada khususnya, akan semarak kembali. Perekonomian semakin kuat, pemerintahan stabil serta bersih, dan konflik receh sesama rakyat bisa dihilangkan.

Aamiin YRA

Semangat!

Long Weekend = Keje*

*Keje = Kerja (Bahasa Malaysia)

Halo! Lagi pada liburan kemana nih? Di MedSos saya pantengin banyak yg lagi ke Aussie nonton Coldplay. Sementara saya mah da apa atuh cari duit aja duluuu…

Ya, berhubung karyawan saya bulan depan nikah, seminggu ini dia cuti untuk acara lamaran. Sempet kita minta dia cari pengganti sementara (bulan depan dia minta libur lagi sebulan), karena Suami pengen tetep bisa narik taksol (taksi online) sementara saya jaga toko.

Pengganti yang udah disiapin Lala batal, karena dia udah keburu dapet kerjaan. Alhamdulillah pas ada penjahit saya yang berhenti kerja di kampung dan bersedia nemenin saya jaga toko.

Dan ini lah saya, libur panjang malah kerja. Plus bonus bisa menyantap Ketupat Sayur Padang kesukaan saya.

Katupek Gulai Paku. Ngga pernah nemu Pakis di pasar, sementara tiap hari pedagang Ketupat Sayur Padang pasti ada menu gulai pakis

Jadi jadwal kami selama karyawan libur adalah, pagi suami anter saya dulu ke tanah abang. Begitu udah make sure penjahit datang, baru suami lanjut cari orderan taksol. 

Pulangnya, biasanya saya akan tunggu suami sambil nyalon atau di Cafe langganan kita deket rumah mertua. Biasanya saya duduk sambil ngemil cantik & browsing2. Begitu malem suami dateng, baru kita cari makan berat.

Pesenan sementara nungguin suami

Nah, kemarin itu karena saya ngga enak badan & ngerasa kurang tidur. Saya minta dianter pulang dulu ke rumah, niat suami sih begitu drop saya di rumah, dia akan lanjut lagi nyupir. Tapi karena saya merasa suami juga kelelahan, akhirnya saya tawarin untuk istirahat dulu. Dan berakhir dengan kita berdua bablas tidur sampe jam 11 malem. Dan terbangun karena lapar, karena belum sempat makan malam.
Nah, kemungkinan sih hari ini saya bakal nungguin Suami lagi sampe malem. Tapi sepertinya bakal pindah tempat, karena kemaren agak ngga enak kelamaan nunggu & sendiri pula.

Yah, biarpun sebenernya lelah, ngantuk & lebih suka istirahat di rumah. Apalagi saya udah ngga sempet lagi masak, belanja sayur, apalagi beres2. Anyhow, saya anggap ini selingan dari rutinitas saya yang sehari2 lebih banyak di rumah.

Semangat!

Suamiku Pengemudi Taksi Online

Oot dikit dari tema blog boleh yaaa…

Oke, sekarang saya mau sharing soal supir taksi online, yang saat ini dijalani oleh suami. Kenapa saya sebut taksi online (taksol), karena saat ini rata rata supir taksol punya minimal 2 aplikasi.

Jadi suami awalnya daftar untuk jadi pengemudi Uber, itu karena diajak teman SMPnya yang udah duluan narik. Dan teman suami itu seorang pengacara yang berkantor di daerah Tulodong, Jakarta Selatan. Setelah uji coba sebulan, suami ngerasa kalo Uber terlalu besar potongan biayanya. Meskipun kami suka sistem pembayarannya yang seminggu sekali langsung ditransfer secara otomatis ke rekening. 

Akhirnya karena banyak sharing dengan teman Clubnya yang juga supir taksol, suami baru aja daftar di aplikasi Go Car. Di Go Car ini sih masih baru beberapa hari jalanin. Tapi so far suami lebih puas karena tidak ada potongan, pembayaran bisa ditarik sewaktu waktu (ini menolong banget karena pengemudi butuh modal untuk bensin), tarif yang lebih mahal dari Uber, serta kejelasan rute & tarif saat penumpang melakukan panggilan. Di Go Car juga tidak ada keharusan kita harus menerima semua panggilan. Sehingga supir bisa menentukan sendiri pendapatan yang didapat. Pendeknya, menurut suami Go Car tidak se-ngoyo Uber lah.

Pengemudi taksol juga kompak lho, mereka punya beberapa titik ngumpul buat istirahat, buang hajat, ngopi sambil ngobrol. Pas lagi ngumpul2 juga ngga jarang mereka saling kasih order buat yang membutuhkan. Entah karena jalurnya searah atau jaraknya sesuai dengan keinginan.

Bahkan mereka juga punya grup WA yang anggotanya lintas aplikasi. Grup yang aktif tersebut biasanya diisi info titik mana yang lagi ramai/sepi order, situasi jalan, sampai kejadian yang dialami. Sering malah mereka kirim screenshot bukti perjalanan mereka berikut fee nya yang tinggi. Hal itu buat memotivasi rekan lain sesama pengemudi. Tak jarang juga mereka saling kasih nasihat, seperti jangan sampai kerja diforsir jadi lupa keluarga atau tips mengatasi kriminalitas.

Apapun, tetap aja sih sebagai istri saya berharap suami ngga usah lama jadi supir taksol. Sebab selain jam kerja nya yang panjang (suami mulai di waktu subuh saat hari nomer genap & pulang dini hari di hari nomer ganjil), sekarang mulai banyak kriminalitas menimpa supir taksol. 

Apalagi suami selama kerja taksol seharian itu nyaris ngga pernah makan berat. Jika istirahat dia hanya minum kopi. Makanya sering saya bekalin kudapan buat ganjel perut.

Terakhir, saya cuma bisa berharap, ekonomi global & lokal membaik. Pasar tanah abang mulai bergairah, sehingga suami bisa cepat kembali ke titahnya 😜.

Apa Kabar Tanah Abang Hari Ini?

Hari ini Jumat 4 Nov 2016. Hari yang sudah jauh2 hari kita tahu bahwa akan ada demo besar2an dari Umat Muslim di Jakarta.

Malam sebelumnya, Lala karyawan saya udah kasih info bahwa besok gedung tutup. Ya berhubung saya memang sudah jarang ke toko, saya persilahkan Lala untuk libur. Sekalian kasih pesan buat hati hati karena saya tahu dia akan ikutan demo.

Tapi paginya, suami bersikeras kalau Tanah Abang tetap buka. Kebetulan suami kemarin sempat ngunjungin toko di sela2 dia narik Uber. Akhirnya biar jelas, saya suruh dia telp ke iparnya yang juga orang Tanah Abang. Dan ternyata memang buka, tapi menurut si kakak ipar, etnis tertentu memang banyak yang meliburkan diri.

Ditelponlah si Lala untuk tetap buka toko. Lala pun nurut, dan suami langsung berangkat kerja. Tapi sekitar jam 9 ada BBM masuk dari Lala. Jadi dia kirim foto situasi di Tanah Abang yang sepi dan toko sekitarnya tutup. Langsung saya hubungin suami, dan suami bilang dia yang akan contact Lala buat mutusin gimananya. 

Tapi ya secara sorenya saya lihat gambar situasi di sekitar Bundaran HI, wajar memang kalau banyak yang memutuskan untuk tutup toko. Bahkan teman saya yang hari ini ke Tanah Abang cuma bisa balik badan begitu lihat Pasar sepi.

Apapun saya bersyukur, demo hari ini beelangsung damai & tertib. Semoga ke depan bangsa ini aman dari segala peristiwa yang berdampak pada perekonomian orang banyak. Aamiin

Tough Time

*lambaikan tangan ke kamera*

Yup! Akhirnya kami menyerah….menyerah untuk menggantungkan hidup pada Tanah Abang 😭.

Terhitung sejak awal Oktober lalu, suami resmi punya profesi tambahan…..Sopir UBER! 

Mau gimana lagi, secara penghasilan dari toko hanya cukup untuk operasional sahaja. Ya daripada dapur ngga ngebul, terpaksa kita cari alternatif usaha lain yang menghasilkan. Fyi, saat tulisan ini dibuat, toko saya belum laris dari 5 hari ajah 😩.

Tega ngga tega sebenernya, secara suami kudu bangun pagi buta atau pulang pagi demi narik UBER. Untungnya sekarang dia mau bawa bekal minuman & snack kalau susah cari jajanan.

Kondisi pasar seperti ini sih bukan cuma kita yang mengalami. Rata rata semua pedagang ‘menjerit’ sama situasi industri & perekonomian yang lesu.

Secara langsung bisa dilihat dari banyaknya toko yang tutup atau diperkecil (tadinya 3 pintu sekarang hanya 2 pintu), jam buka yang diperpendek (di Blok B kini jam 15.30 sudah pada tutup & sepi), pengurangan jam kerja karyawan (karyawan masuk kerja secara bergilir setiap hari), bahkan sampai ada pedagang yang berjualan dalam kondisi gelap karena belum bisa membayar iuran listrik. 

Alhamdulillah suami masih cukup optimis sih, sementara saya lebih sering down & stress ngadepinnya. Mungkin karena suami udah terbiasa sama dunia usaha yang naik turun. Makanya, kita berdua sekarang lebih banyak kasih kata2 positif ala ala ‘Sarden Way’ buat Lala yang jaga toko biar dia ngga hilang harapan.

Tetap Semangat!

Lepas Kunci

Alhamdulillah setelah lebaran kemarin, resmi sudah karyawan baru kita percayai untuk memegang kunci toko. Artinya, kunci toko dibawa pulang oleh karyawan. Bukan kita lagi yang pegang tiap hari.

Masalah kunci toko ini, berbeda beda tergantung dari sikap pemilik. Ada yang kunci tetap dipegang pemilik, sehingga tiap pagi dan sore dia datang untuk ambil. Resikonya, jika pemilik berhalangan maka toko pun akan tutup. Beda lagi dengan ipar saya, yang bahkan kunci sudah dipegang oleh karyawan baru sekali pun. Tanpa mau tahu si karyawan ini tinggal dimana, apakah jauh atau dekat. Bahkan, toko sebelah saya kunci dipegang karyawan kepercayaannya saat libur panjang lebaran. 

Nah, beda dengan suami saya yang lebih berhati hati. Suami wajib tahu dulu dimana karyawan tinggal. Bahkan suami menolak kasih kunci kalau karyawan sering pindah kos. Yah make sense sih, karena kalau karyawan berhalangan kan kita harus jemput tuh kunci. 

Mulai akhir Ramadhan kemarin tepatnya kita mulai uji coba lepas kunci ke karyawan. Apalagi kalau siang di bulan Ramadhan, suami saya yang perokok ini udah kaya ‘shutdown’ mode. Males banget bangun! Kalau ngga saya gebrak, bisa ampe Maghrib kali tidurnya 😩. Jadilah Lala, karyawan kami yang kost nya dekat Toko yang buka toko tiap pagi.

Tentu saja efek nya menyenangkan buat kita. Masih ingat postingan nyampah saya yang berisi keluhan kalau ngga punya waktu buat olahraga atau sekedar masak? Emang saya ngga sabar aja sih, padahal kan saya tahu kondisi ini hanya sementara. Buktinya, sekarang saya bisa jogging dan belanja sayur tiap pagi. Masih ada waktu untuk sekedar menyiapkan buah dan sarapan.Suami juga ngga harus berangkat dengan keadaan masih ngantuk, karena kita jalan santai. Pulang kerja pun bisa lebih awal, jadinya kita juga ngga kena macet lagi Horeeee….

Intinya saya merasa bersyukur sekali, karena idealnya jika kita sudah punya karyawan ya harus bisa kita lepas. Kalau semua masih harus kita yang handle, percuma dong ada karyawan. Saya cuma bisa berharap semoga karyawan saya istiqomah dan amanah, Aamiin YRA.

Tentang Baju

Sebagai orang yang sehari hari bergaul dengan baju, mari kita angkat hal itu sebagai topik kali ini. Bahwa lingkungan kerja saya adalah pusat grosir (baju) terbesar di Asia Tenggara, ditambah pekerjaan saya yang mengharuskan untuk tahu tren baju (muslim) paling update, memilih motif & warna bahan, sampai uji coba sampel desain.
So, kita bahas baju secara personal yuk!

Waktu kecil dulu, pembagian baju kita mungkin lebih banyak ya. Ada baju tidur, baju rumah, baju main, baju pergi, baju pesta, dll. Makin dewasa, pembagian baju kita lebih simple atau lebih complicated?
Sejak saya memutuskan untuk berhijab, pembagian baju saya lebih sederhana. Hanya baju keluar rumah, baju rumah & baju pesta. Tentu saja baju rumah adalah baju yang tidak mungkin lagi saya kenakan di luar rumah. Dan karena tempat kerja saya notabene pasar, maka saya satukan saja dengan baju pergi (keluar rumah) yang lebih banyak casual. Saya hanya punya satu kemeja, itu pun dikasih gratis dari simpatisan Jokowi waktu lagi antri di kasir H&M hihi.

Dari sisi saya pribadi, keputusan untuk berhijab tahun lalu adalah kesempatan untuk mengubah isi lemari secara total. Karena hampir sebagian besar baju saya singkirkan. Dan perasaan itu seperti kita kembali ke titik nol, bisa membuat konsep baru bagaimana cara memilih baju, belanja & gaya berpakaian selanjutnya.
Seperti halnya busana muslim. Saya kurang suka gaya 3 pieces yang terlihat ribet, dan kurang cocok untuk cuaca Jakarta yang panas. Makanya sehari hari lebih suka memakai tunik/kaos panjang, yang dipadukan dengan celana/legging/rok yang lebih simpel dan anti gerah. Bahkan saya lebih sering memakai bandana sebagai alas hijab ketimbang ciput untuk mencegah gerah. Psst…awal berhijab saya juga selalu memakai hijab instan produksi sendiri. Secara males banget buat belajar dari tutorial hijab, yang dimata saya semua sama modelnya 😅.  Saya juga punya beberapa model rok yang sudah jadi satu dengan celana. Intinya praktis, praktis dan praktis!

Dari segi pemilihan warna pun kini saya hanya memilih baju dengan warna monokrom standar. Hitam, putih, dan abu. Dan nyatanya prinsip itu jadi semacam ‘rem’ kalau belanja baju. Jika model baju yang saya taksir tidak menyediakan warna diatas, saya pasti tidak akan beli. Kalau pun saya memilih baju dengan warna diluar itu, sudah bisa dipastikan kalau saya suka banget sama modelnya. Yeah… walaupun sekalinya di satu model yang saya suka ada warna warna basic tsb, saya bisa beli baju yang sama dengan 2 warna 😂 #girlswillbegirls. 

Anyhow, dalam pikiran saya ada semacam pembagian ‘tidak resmi’ untuk Baju Keluar Rumah. Kategori ‘keren’ dan ‘biasa’ . Baju ‘biasa’ aman digunakan kalau saya hanya pergi ke toko saja. Tapi kalau saya tahu ada acara selepas kerja, biasanya saya memakai baju yang masuk kategori ‘keren’. Jika saya akan pergi liburan di minggu depan pun, sebelum berangkat saya hanya akan memakai Baju Keluar Rumah dengan kategori ‘biasa’. Sehingga saat liburan, saya bisa eksis dengan baju baju yang saya anggap ‘keren’. Pernah sih, saya berpikir untuk menyingkirkan semua baju yang masuk kategori ‘biasa’, agar sehari hari saya ngga perlu bingung untuk menentukan baju yang saya pakai. Tapi kayanya manusia ngga pernah ada puasnya, bukan? Akan selalu ada baju yang lebih keren dan keren lagi. Lagipula, kadang saya malah butuh baju dengan kategori ‘biasa’. Entah karena pikiran atau suasana hati yang lagi buruk, atau pas lagi ngga mau terlihat mencolok. Sungguh ribet ya yang namanya perempuan? 😜